silahkan latihan bisnis

SentraClix DbClix

Pages

Rabu, 09 Februari 2011

Malem Siji Sura

Upacara Malam 1 Sura, pada setiap malam satu syura atau tanggal 1 Muharam 1430 H (Tahun Baru Hijriyah) yang bertepatan tanggal 29 Desember 2008 di keraton Surakarta Hadiningrat akan diadakan upacara adat. Sebagai warisan budaya, upacara seperti ini berasal dari jaman kerajaan hingga sekarang terus dilestarikan dan dilaksanakan. Ini merupakan warisan budaya yang harus dilindungi dari klaim pihak asing.

Malam 1 sura dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Dalam perhitungan jawa, malam 1 sura dimulai dari terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan terakhir kelender jawa (29/30 bulan Besar) sampai terbitnya sang matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya.

Dilingkungan keraton Surakarta Hadiningrat upacara ini diperingati dengan kegiatan kirab mengililingi beteng keraton. Dimulai dari kompleks Kemandungan Utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengintari seluruh kawasan keraton dengan arah berlawanan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan Utara. Dalam profesi pusaka keraton menjadi bagian utama pada barisan terdepan baru kemudian diikuti para pembesar keraton, kerabat dan jajaran keraton yang lengkap dengan pakaian keratonnya, dan akhirnya oleh masyarakat. Uniknya pada lapisan barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian tersendiri bagi masyarakat.

Pada jaman modern seperti sekarang ini dan era globalisasi dengan teknologi canggih, masyarkat Surakarta dan sekitarnya masih percaya kerbau Kyai Slamet Klangenan Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai hewan suci dan memberikan berkah. Masyarakat berharap pada saat kirab pusaka, kerbau Kyai Slamet mengeluarkan kotoran dan mereka beranggapan kotoran kerbau Kyai Slamet dapat memberikan berkah.

Fakta yang ada, pada malam tanggal 1 bulan Sura tahun baru Jawa banyak masyarakat yang berdatangan ke Keraton Surakarta Hadiningrat untuk melihat Kirap Pusaka dan kirab kerbau Kyai Slamet. Karaton Surakarta adalah istana raja atau tempat kediaman raja-raja Surakarta, sekaligus Ibukota dan pusat pemerintahan kerajaan tersebut. Karaton Surakarta yang terletak di pusat kota ini mulai digunakan pada hari Rebo Pahing, 17 Februari 1745. Didirikan oleh Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku BUwana II. Karaton Surakarta tetap melstarikan upacara adapt diantaranya upacara jumenengan Dalem atau peringatan naik tahta, upacara Kirab Pusaka dan Kirab Kerbau Kyia Slamet setiap Malam tanggal 1 bulan Sura.

Upacara adat Malem 1 Sura di Karaton Surakarta Hadiningrat yang biasa dilakukan pada malam tanggal 1 bulan Sura tahun baru Jawa merupakan suatu tradisi yang memeperkaya khsanah kebudayaan nasional Indonesia. Upacara adat Malem 1 Sura Di karaton Surakarta Hadiningrat dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya dengan segala kekhususannya tidak dijumpai pada setiap daerah dan sangat menarik untuk diteliti.

Masyarakat berharap agar kerba Kyai Slamet pada saat kirab pusaka mengeluarkan kotoran. Mereka beranggapn bahwa kotoran kerbau Kyai Slamet diyakini dapat menyuburkan tanaman, sehingga akan memberikan hasil yang melimpah dan terhindar dari ancaman segala hama. Pada saat kirab pusaka berlangsung warga masyarakat rela berdesak-desakan dan banyak yang memperebutkan kotorang kerbau Kyai Slamet bahkan mereka mengambilnya dengan tangan telanjang. Kerbau Kyai Slamet pada zaman dahulu merupakan pisungsung dari Bupati Ponorogo dan merupakan hewan keayangan Keraton Surakarta sehingga beranak pinak sampai sekarang.

Menurut seorang pujangga kenamaan Keraton Kasunanan Surakarta, Yosodipuro, leluhur kerbau dengan warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan) itu, merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Paku Buwono II, yang diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet. Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet ini.

“Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kyai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai Kebo Kyai Slamet,’’ kata Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Winarno Kusumo,

Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk keraton yang baru, tahun 1725, leluhur kebo-kebo bule tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton, hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi Keraton Kasunanan Surakarta –sekitar 500 meter arah selatan Kantor Balai Kota Solo.

Bagi masyarakat Solo, dan kota-kota di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri, Kebo Bule Kyai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing. Setiap malam 1 Sura menurut pengganggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), sekawanan kebo keramat ini selalu dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

Ritual kirab malam 1 Sura itu sendiri sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika menyaksikan kirab.

Kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Sebab, adakalanya kebo keramat baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab puasaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo keramat Kyai Slamet. Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo bule akan berjalan dari kandangnya menuju halaman keraton. Maka, kirab pun dimulai. Kawanan keerbau keramat akan berada di barisan terdepan, mengawal pusaka keraton Kyai Slamet yang dibawa para abdi dalem keraton. Kerumunan orang pun menyemut dari keraton hingga di sepanjang perjalanan yang dilalui arak-arakan.

Dan inilah yang menarik: orang-orang menyikapi kekeramatan kerbau Kyai Slamet sedemikian rupa, sehingga cenderung tidak masuk akal. Mereka berjalan mengikuti kirab, saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh kebo bule. Tak cukup menyentuh tubuh kebo, orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran. Begitu kotoran jatuh ke jalan, orang-orang pun saling berebut mendapatkannya. Tidak masuk akal memang. Tapi mereka meyakini bahwa kotoran sang kerbau akan memberikan berkah, keselamatan, dan rejeki berlimpah. Mereka menyebut berebut kotoran tersebut sebagai sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari berkah Kyai Slamet.

Mengapa justru kawanan kebo bule tersebut yang menjadi tokoh utama dalam tradisi ritual kirab malam 1 Sura?

Menurut Kepala Sasono Pustoko Keraton Surakarta Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger, kirab pusaka dan kerbau sebenarnya berakar pada tradisi sebelum munculnya Kerajaan Mataram (Islam), pada prosesi ritual wilujengan nagari. Pusaka dan kerbau merupakan simbol keselamatan. Pada awal masa Kerajaan Mataram, pusaka dan kerbau yang sama-sama dinamai Kyai Slamet, hanya dikeluarkan dalam kondisi darurat, yakni saat pageblug (wabah penyakit) dan bencana alam.

”Pusaka dan kerbau ini diharapkan memberi kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Tuhan akan memberi keselamatan dan kekuatan, seperti halnya Ia memberi kekuatan kepada pusaka yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki kekuatan,” ungkapnya.

Sementara sejarawan dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono, menuturkan, selain dekat dengan kehidupan petani, sosok kerbau memang banyak mewarnai sejarah kerajaan di Jawa. Semasa Kerajaan Demak, misalnya, seekor kerbau bernama Kebo Marcuet mengamuk dan tak ada satu prajurit pun yang bisa mengalahkannya. Karena meresahkan, kerajaan menggelar sayembara: barang siapa mampu mengalahkannya akan diangkat menjadi senopati.

Secara mengejutkan, Jaka Tingkir atau Mas Karebet mampu mengalahkan Kebo Marcuet dengan tongkatnya. Mas Karebet kemudian mempersunting putri Raja Demak Sultan Trenggono, dan akhirnya mengambil alih kekuasaan.

”Jaka Tingkir sebenarnya keturunan Kebo Kenongo, Raja Pengging Hindu yang dikalahkan Kerajaan Demak. Pemindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang, yang dekat Pengging, adalah upaya Joko Tingkir mengembalikan pengaruh kekuasaan kerajaan ke pedalaman yang sarat tradisi agraris,” katanya.

Dari sejarah itu, lanjut Sudarmono, kerbau selalu dijadikan alat melegitimasi kekuasaan kerajaan. ”Dalam budaya agraris, kerbau simbolisasi kekuatan petani. Sosok kerbau dihadirkan dalam kirab, yang diikuti abdi dalem dan rakyat, sebenarnya ingin menunjukkan legitimasi keraton atas rakyatnya yang sebagian besar petani.”

Kemunculan kebo bule Kyai Slamet dalam kirab, kata Sudarmono, adalah perpaduan antara legenda dan sage (cerita rakyat yang mendewakan binatang). Dalam pendekatan periodisasi sejarah, sosok kebo bule ditengarai hadir semasa Paku Buwono (PB) VI pada abad XVII. PB VI merupakan raja yang dianggap memberontak kekuasaan penjajah Belanda dan sempat dibuang ke Ambon.

”Meski PB VI dibuang ke Ambon, namun semangat pemberontakan dan keberaniannya menghidupi rakyatnya. Dalam peringatan naik takhta, sekaligus pergantian tahun dalam penanggalan Jawa malam 1 Sura, muncul kreativitas menghadirkan sosok kebo bule yang dipercaya sebagai penjelmaan pusaka Kyai Slamet dalam kirab pusaka,” tambah Sudarmono.

Pada sisi lain Gusti Puger menuturkan, Keraton Surakarta tidak pernah menyatakan tlethong (kotoran) kerbau bisa mendatangkan berkah. ”Kalau tlethong dianggap menyuburkan sawah karena dapat dibuat pupuk, itu masih diterima akal. Namun kami memahami ini sebagai cara masyarakat menciptakan media untuk membuat permohonan. Mereka sekadar membutuhkan semangat untuk bangkit.”

Winarno mengungkapkan, saat ini kebo bule keraton berjumlah 12 ekor. Namun kebo bule yang dipercaya sebagai keturunan asli Kyai Slamet sendiri hingga saat ini hanya tersisa enam ekor. Mereka adalah Kiai Bodong, Joko Semengit, Debleng Sepuh, Manis Sepuh, Manis Muda, dan Debleng Muda.

“Yang menjadi pemimpin kirab biasanya adalah Kyai Bodong, karena dia sebagai jantan tertua keturunan murni Kyai Slamet. Disebut keturunan murni, karena mereka dan induk-induknya tidak pernah berhubungan dengan kerbau kampung.”

Kyai Bodong sendiri memiliki adik laki-laki yang diberi nama Kyai Bagong. Namun, kata Winarno, kerbau tersebut sekarang ini berada di kawasan Solo Baru, Sukoharjo, dan dengan alasan yang enggan disebutkan, kebo bule itu tidak bisa dibawa pulang ke Keraton Surakarta.

Sejak dulu, sekawanan kebo keramat tersebut memang memiliki banyak keunikan. Kawanan kerbau ini, misalnya, sering berkelana ke tempat-tempat jauh untuk mencari makan, tanpa diikuti abdi dalem yang bertugas menggembalakannya. Mereka sering sampai ke Cilacap yang jaraknya lebih 100 km dari Solo, atau Madiun di Jawa Timur. Namun anehnya, menjelang Tahun Baru Jawa, yakni 1 Sura atau 1 Hijriah, mereka akan kembali ke keraton karena akan mengikuti ritual kirab pusaka.

Winarno menambahkan, malam 1 Sura sangat berarti bagi orang Jawa, karena tidak saja memiliki dimensi fisik perubahan tahun, namun juga mempunyai dimensi spiritual. Sebagian masyarakat Jawa yakin, bahwa perubahan tahun Jawa menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmis Jawa, terutama kehidupan masyarakat agraris.

Nah, peran kebo bule Kyai Slamet adalah sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa. Di luar itu, kerbau secara umum juga mempunyai nilai tinggi dalam sebuah ritual, tidak saja di keraton Surakarta, tetapi juga di Sulawesi, Kalimantan, sehingga secara material ia menjadi simbol kejayaan dan kesuburan. Sebuah cita-cita yang ingin diwujudkan oleh raja beserta rakyatnya.

“Kyai Slamet adalah sebuah visi Raja. Secara harfiah, visi Keraton Surakarta, yaitu ingin mewujudkan keselamatan, kemakmuran, dan rasa aman bagi masyarakatnya.

Saparan (yogowigu), tradisi ini sering dijumpai pada daerah Klaten, Solo, Boyolali. Sebelumnya didaerah Boyolali tradisi ini berjalan 10x. Namun tradisi ini ditinggalkan masyarakat. Kurang lebih 5 tahun yang lalu, Disparta menghidupkan kembali tradisi ini. Selama kurun waktu 5 tahun sudah berjalan 5x. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada Jumat minggu ketiga bulan sapar. Acara ini dimulai setelah sholat Jumat.

Pada malam sebelum upacara saparan, dilaksanakan kenduren dan tahlilan. Kendurennya terdiri dari nasi uduk, ingkung, pisang raja, pisang ambon, dan intip. Pisang dan intip adalah makanan sehari-hari.(R.Ng.Yosodipuro). Setelah sholat Jumat dilanjutkan acara lempar apem yang dibuat gunungan kurang lebih 1 x ½ meter(dengan diameter 1, dan tinggi 1,5 meter). Apem dengan jumlah yang banyak didapatkan dari masyarakat kraton. Sebelumnya, sebagin apem disesajikan di makam Yosodipuro dan diumbul siraman dalem untuk didoakan. Apem yang telah disusun diarak dari kecamatan ke masjid Ciptomulyo(di desa pengging). Arak-arakan apem diikuti oleh tokoh masyarakat, kesenian daerah seperti reog untuk meramaikan.

Sanggaran, "Sanggaran dan kungkum memberi bukti ketelatenan masyarakat Jawa memelihara tradisi". Saat upacara, setiap peserta melakukan tirakatan sambil berdoa kepada Tuhan agar apa yang diinginkannya di dunia terkabul. Prosesi Sanggaran biasa dilakukan mulai pukul 19.00 sampai subuh. Pengambilan janur dianggap puncak prosesi. Eksistensi dan tumbuh kembang suatu kebudayaan tidak jarang disebabkan adanya penokohan ter hadap individu oleh masyarakatnya. Di Boyolali, Jawa Tengah, nama RNgYosodipuro(1729-1803).

Karena ketokohannya, wangsit yang disampaikannya sebelum wafat terus diikuti masyarakat hingga saat ini. Yosodipuro I mengamanatkan kepada warganya agar kuburnya diberi janur kuning agar mendapat kejernihan pikiran

dan berkah. Tradisi Sanggaran tersebut pada perkembangannya dibarengi kungkum (berendam) di Umbul Pengging. Kungkum merupakan tradisi lama di Jawa yang menunjukkan ada ikhtiar, keras dalam menjalani hidup secara lahir dan batin. Kemudian muncullah tradisi upacara Sanggaran di kompleks makamnya. Prosesi San ggaran diselenggarakan tiap malam Selasa dan Jumat yang diikuti banyak orang. Suasana sangat ramai pada malam Jumat Pahing, bertepatan dengan weton (han kelabiran) Yosodipuro I.

Kungkum menjadi cara untuk mengungkapkan fiat membersihkan din demi meraih kesucian. Kungkum dan Sanggaran lalu identik dengan Umbul Pengging dan petilasan Yosodipuro I. Upacara Sanggaran dan kungkum itu dimaksudkan sebagai penguatan dasar hidup yang holistis secara lahiriah dan batiniah. Keberlangsungan upacara Sanggaran dan kungkum terus mendapati pemaknaan sesuai dengan tuntutan zaman. Dulu, pada masa awal, ritual itu dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat Jawa terhadap kekuasaan Islam.Upacara tersebut mengajarkan manusia untuk menjalani hidup dengan ikhtiar dan doa.

Sanggaran, menurut beberapa sesepuh, merupakan laku sederhana dengan menempatkan sesuatü di tempat yang dianggap keramat untuk meminta petunjuk melalui tanda-tanda yang disanggarkan, yakni janur kuning. Tanda doa orang dalam Sanggaran yang dikabulkan adalah jika pada janur yang di-sanggar-kan telah terdapat tulisan dengan huruf Arab atau huruf Jawa. Tulisan itu biasanya akan dibacakan juru kunci terkait dengan permintaan-permintaan yang telah diajukan dalam doa. Cara membaca tulisan itu adalah diterawang karena tidak tertulis, kasat mata di atas janur. Huruf-huruf yang tertera merupakan simbol dan kehidupan manusia yang harus dipahami dengan sungguh-sungguh berdasarkan kepercayaan secara batiniah.Upacara Sanggaran pada dasarnya menjadi cara manusia mengingat kekuasaan Tuhan. Kesadaran kosmis dengan pelbagai tata cara lahiriah menjadi representasi kekuatan spintualitas masyarakat Jawa.

Sanggaran dan kungkum pada masa sekarang membeni bukti mengenai ketelatenan masyarakat Jawa untuk memelihara tradisi yang dipercayai mampu memberi petunjuk membuat hidup menjadi indah dan membahagiakan.

Sabtu, 05 Februari 2011

¥ Mantra Panawaran .

Niyatingsun dhahar, rowaningsun tapa kang dhahar. Niyatingsun sare, rowangingsun tapa kang sare, krana ingsun iki wus kawengku ing alam nasut, Malaekat Jabarut yaiku kang dhahar, kang sare jagade sahir kabir, cahya mangan ras, rasa mangan cahya, cahya mulya, rasa sampurna. Lakune mutih 3 dina 3 bengi, sarta nglowong 3 dina 3 bengi, wiwite dina Jumuah Pahing. Mantra diwacayen arep mamangan, supaya manawa diracun ing wong, bisa tawar tawar ora tumama.

¥ Mantra Siyung Wanara


Gebyar sapisan sakehing cahya padha sirna, gebyar pindho sakehing roh padha sirep, rep sirep sajagade, kepyar-kepyur si bajul padha lumayu bubar. Lakune nglowong 3 dina 3 bengi, wiwite dina Setu Kliwon. Mantra diwaca kanggo nyingkirake baya Ian buron banyu kang galak, sarta uga diwedeni wong akeh.

Selasa, 01 Februari 2011

Penerapan Teori Hermeneutika Gadamer

Penerapan Teori Hermeneutika Gadamer

Pada Cerita Jaka Tarub

Seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan awal mengenai teori Hermeneutika oleh Gadamer mengenai pemahaman atau interpretasi mengenai karya seni atau karya sastra baik secara lisan maupun tulis pada dasarnya berkaitan dengan hubungan antarmakna dalam sebuah teks, serta pemahaman tentang realitas yang kita perbincangkan. Dengan inilah yang dimaksud dengan dinamika perpaduan berbagai macam factor dalam sebuah bahasa yang dapat kita gunakan untuk mengkaji makna dalam setiap symbol yang ada dalam media bahasa tersebut. Faktor- factor yang dimaksud itu antara lain :

1. Bildung

Bildung adalah konsep-konsep yang meliputi seni, sejarah weltanschauung (pandangan dunia), pengalaman, ketajaman pikiran, dunia eksternal, kebatinan, ekspresi atau ungkapan, style atau gaya dan simbol, yang kesemuanya itu kita mengerti saat ini sebagai istilah-istilah dalam sejarah. Kata bildung sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari pada sekedar kultur atau kebudayaan, bahkan mempunyai arti dalam konotasi yang lebih tinggi. Seperti alam, bildung tidak mempunyai tujuan akhir selain dirinya sendiri, sejauh kata bildungziel, mempunyai tujuan untuk meluaskan pengertian kata bildung tersebut. Bildung adalah sebuah gagasan historis asli dan pengadaannya penting untuk pemahaman dan interpretasi ilmu-ilmu kemanusiaan, selama seni dan sejarah masuk dalam bildung (kebudayaan), orang akan melihat dengan mudah hubungan antara bildung dan hermeneutik. Tanpa bildung orang tidak akan dapat memahami ilmu-ilmu tentang hidup atau ilmu-ilmu kemanusiaan.

Tentunya dalam cerita Jaka Tarub ini yang dimaksud bildung adalah segala hal-hal yang juga ada hubungannya dengan kebudayaan Jawa yang lekat sekali pada zaman pada saat adanya cerita itu terjadi. Dalam cerita rakyat Jaka Tarub ini, ada beberapa makna dalam simbol yang erat kaitannya dengan bildung. Adapun simbol-simbol yang akan ditafsirkan dalam cerita Jaka Tarub ini antara lain:

a. Selendang

Dalam cerita Jaka Tarub, diceritakan Jaka Tarub mengambil selendang Dewi Nawangwulan yang akhirnya disimpan dibawah tumpukan ketan hitam. Disini makna dari simbol selendang pada masyarakat Jawa yang dipakai oleh para wanita, khususnya Dewi Nawangwulan ditafsirkan adalah sebuah kehormatan dan kesucian. Pada zaman dahulu, biasanya pemakaian selendang selalu berpasangan dengan kain jarik atau tapih. Sedangkan jarik atau tapih yang digunakan bersamaan dengan selendang itu sendiri selalu digunakan untuk menutup tubuh. Jadi, pemakaian kata selendang dapat disimpulkan sebuah kehormatan, keindahan, keanggunan atau kesucian.

b. Tulup

Dalam cerita rakyat jaka tarub ini, diceritakan bahwa Jaka Tarub memperoleh senjata Tulup Tunjung Lanang ini dari orang tua yang ditemuinya di tengah hutan. Tulup kemudian selalu dibawa dan digunakannya untuk berburu, hingga bertemu dengan Dewi Nawangwulan. Makna symbol tulup di sini adalah melambangkan tentang kekuatan, kekokohan tekad seorang pria dalam mencari atau memperoleh apa yang diinginkan.

c. Anjang-anjang

Makna simbol anjang-anjang di sini adalah sebuah, kepercayaan, keamanan dan kenyamanan. Dalam cerita Jaka Tarub ini diceritakan bahwa saat Dewi Nawangwulan akan pergi meningggalkan Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih, beliau berpesan agar Jaka Tarub membuatkan anjang-anjang untuk meletakkan Dewi Nawangwulan setiap malam saat akan disusui oleh Dewi Nawangwulan. Anjang-anjang umumnya terbuat dari kayu, bambo, atau yang lainnya. Anjang-anjang memiliki dua atau lebih tiang penyangga yang kokoh dan kuat. Menurut interpretasi penafsir di sini digambarkan bahwa Dewi Nawangwulan percaya kepada Jaka Tarub untuk mengasuh putri mereka menjadi anak yang baik. Jaka Tarub dinilai mampu memberikan keamanan dalam menjaga Dewi Nawangsih, sehingga Dewi Nawangsih nyaman.

d. Taruban

Seperti yang telah diceritakan dalam cerita Jaka Tarub, ketika Jaka Tarub masih bayi dimasukkan dalam bokor yang diletakkan di dekat makam Aryo Penanggungan. Dalam hal ini makna dari symbol Taruban adalah kesederhanaan. Dikatakan memiliki makna kesederhanaan karena dalam kepercayaan masyarakat Desa Tarub, khususnya dalam pepalih yang dipercaya apabila ada salah seorang warga saja yang mendirikan taruban dalam hajatan, maka biasanya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk itu mereka lebih memilih untuk tidak mendirikan taruban. Selain itu, dimaknai dengan sebuah kesederhanaan, karena adanya pertimbangan pula bahwa sebagian besar warga Desa Tarub yang hidup sederhana.

e. Bokor

Dalam cerita Jaka Tarub ini ini diceritakan bahwa, semasa bayi Jaka Tarub diletakkan oleh ayahnya di dalam bokor kencana kemudian di tinggal di dekat makam Aryo Penanggungan. Bokor terbuat dari tembaga atau logam yang kuat. Maka dari itu bokor tidak mudah bocor. Dengan demikian bokor mempunyai makna simbolik yaitu kekuatan.

f. Tapa ngalong dan tapa ngidang

Tapa ngalong dan tapa ngidang adalah tapa yang dilakukan oleh Syeh Maulana Maghribi dan Dewi Nawangwulan. Ngalong berasal dari kata kalong, yang artinya bertindak seperti kelelawar. Sedangkan ngidang berasal dari kata kidang, yang artinya bertindak seperti kidang. Tapa ngalong dilakukan oleh Syeh Maulana Maghribi di atas pohon giyanti, sedangkan tapa ngidang dilakukan oleh Dewi Nawangwulan dengan cara bertingkah laku seperti kidang di hutan. Seperti yang telah diceritakan dalam cerita Jaka Tarub ini, pada saat melakukan tapa ngalong dan tapa ngidang mereka tidak diperbolehkan memakan daging. Syeh Maulana Maghribi dan Dewi Nawangwulan hanya diperbolehkan memakan daun-daunan seperti layaknya yang dilakukan oleh kalong dan kidang. Dalam persepsi kelompok kami, makna yang tersirat dalam tapa ngalong dan tapa ngidang yang dilakukan oleh mereka adalah meninggalkan masalah keduniawian. Maksudnya adalah mereka dalam tapa pertapaanya dialtih untuk meninggalkan masalah keduniawian, agar mulai terbiasa dan fokus dalam ajaran agama.

g. Sendang

Sendang merupakan tempat yang bertemunya Jaka Tarub dengan Dewi Nawangwulan pertama kalinya. Pada saat itu Dewi Nawangwulan sedang mandi bersama bidadari lainnya. Di dalam sendang berisi air. Air selain untuk mandi masih memiliki banyak kegunaan lainnya bagi kehidupan. Air diibaratkan tak pernah habis, dan selalu mengalir. Disini sendang dapat ditafsirkan sebuah ilmu pengetahuan yang tak pernah habis dan selalu mengalir dalam kehidupan umat manusia. Kaitannya dengan cerita Jaka Tarub ini, yang dimaksud adalah ilmu syariat agama islam yang diajarkan oleh Ki Ageng Tarub pada masa itu.

2. Sensus Communis

Gadamer menggunakan ungkapan ini bukan sebagai pendapat umum atau pendapat kebanyakan orang pada umumnya. Menurut pengertiannya yang mendasar, istilah tersebut adalah pandangan yang mendasari komunitas dan karenanya sangat penting untuk hidup. Hidup di dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat memperkembangkan suatu pandangan tentang kebaikan yang benar dan umum. Sejarawan memerlukan sensus komunis semacam ini dengan maksud untuk memahami arus yang mendasari pola sikap manusia. Sejarah pada dasarnya tidak berbicara tentang seorang manusia yang terpencil, tetapi berbicara tentang kelompok manusia atau komunitas. Demikian juga dengan kesusastraan. Sebuah karya sastra, yang temanya bersifat universal atau yang menggambarkan keadaan manusia, layak untuk dihargai. Gadamer sepakat dengan Shaftesbury bahwa sensus komunis adalah pandangan tentang kebaikan umum, cinta komunitas, masyarakat, atau kemanusiaan. Sensus communis adalah kebijaksanaan dalam pergaulan sosial. Melalui sensus communis orang memperkembangkan pandangan tentang kebaikan umum atau cinta kemanusiaan.

Kaitannya dengan cerita Jaka Tarub, tentunya dalam komunitas sosial, pandangan antara orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Hal ini menimbulkan multitafsir. Dengan adanya multitafsir tersebut tentunya akan sulit mengambil inti cerita, jadi diperlukan sebuah kesimpulan atau kesepakatan sebagai titik temu untuk menjelaskan cerita tersebut. Penerapannya dalam cerita ini yaitu terdapat konsep pemikiran masyarakat tentang Jaka Tarub yang terkenal dengan perbuatannya “mencuri” selendang, padahal apabila dibandingkan dengan pendapat narasumber cerita rakyat ini dan sebagian besar masyarakat Desa Tarub, tindakan Jaka Tarub tersebut adalah “meminjam”. Mereka tidak mau mengatakan Jaka Tarub “mencuri”. Ada sebuah anggapan yang sangat kontras mengenai tindakan Sunan Tarub atau Ki Ageng Tarub yang tidak mungkin mencuri. Mereka lebih senang menyebut Ki Ageng Tarub ”meminjam”.

Dari dua hal yang telah dipaparkan diatas telah ditemukan konsep pemikiran yang berbeda mengenai tindakan Ki Ageng Tarub tersebut. Namun, dalam konsep pemikiran masyarakat awam di luar Desa Tarub dari dulu sampai pada saat ini, tindakan Ki Ageng Tarub tersebut yang mereka tahu adalah “mencuri”. Jadi konsep pemikiran mencuri dijadikan sebagai konvensi atau kesepakatan yang dipakai oleh masyarakat awam sebagai titik temunya.

3. Pertimbangan

Konsep pertimbangan mirip dengan sensus communis dan selera. Pertimbangan sifatnya adalah universal, namun bukan berarti berlaku umum. Seperti halnya sensus communis yang dianggap sebagai harta universal, kemanusiaan namun juga tidak juga digunakan secara umum. Pertimbangan juga bersifat universal, tetapi hanya sedikit orang saja yang kiranya memilliki hal itu serta mempergunakannya sebagaimana mestinya. Pertimbangan dan sensus communis keduanya merupakan interpretasi ilmu-ilmu tentang hidup. Melalui pertimbangan orang dapat memilah-milah macam-macam peristiwa.

Gadamer sepakat dengan Immanuel Kant tentang pembinaan praktis yang dihubungkan dengan pengertian estetis atau nilai estetis. Pertimbangan adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal, dan kemampuan ini akan melibatkan perasaan, konsep, prinsip, dan hukum-hukum yang dapat diolah manusia.

· Bidadari

Seperti yang telah dipaparkan di atas pertimbangan menurut Gadamer ini berhubungan dengan nilai estetis, atau nilai yang mengandung keindahan. Berkenaan dengan hal pertimbangan mengenai bidadari ini memiliki dua makna, yaitu :

1. Bidadari adalah sosok yang digambarkan memiliki keindahan, kesucian, keikhlasan, dan tanpa pamrih.

2. Bidadari berasal dari bahasa sansekerta yaitu Vidhya yang memiliki arti yaitu ilmu pengetahuan, dan Dharya yang artinya pemilik, pemakai, atau pembawa. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam makna yang kedua ini bidadari adalah seseorang yang memiliki, memakai, atau membawa ilmu pengetahuan.

· Selendang

Beberapa pertimbangan mengenai makna selendang yang mengandung nilai estetis yaitu bahwasanya selendang adalah sebuah benda yang pada umumnya digunakan oleh seorang wanita untuk menutupi tubuhnya yang dipasangkan dengan jarik atau tapih. Dengan digunakannya selendang yang dipasangkan dengan tapih atau jarik yang semacam ini, secara tidak langsung juga dapat menimbulkan keindahan, keanggunan, kesucian, dan kehormatan. Inilah beberapa pertimbangan estetis dari selendang tersebut.

4. Taste atau Selera

Penyelidikan tentang selera menurut pandangan Gadamer dalam hal ini tidak bersangkut- paut dengan kecenderungan pribadi, atau bahkan dengan kesukaan pribadi. Sebaliknya, pandangan Gadamer justru mengatasi kesukaan pribadi. Menurut gadamer orang tentu saja dapat menyukai apa yang orang lain tidak suka. Oleh karena itu tentang selera tidak perlu diperdebatkan, sebab tidak ada criteria untuk menentukan selera.

Menurut Gadamer selera sama dengan rasa, yaitu dalam pengoperasiannyatidak memakai pengetahuan akali. Jika selera menunjukkan reaksi negatif atas sesuatu, kita tidak tahu sebabnya. Tetapi selera tahu pasti tentang hal itu. Semakin selera dinyatakan pasti, maka akan semakin dirasakan hambar. Berdasarkan fakta, selera bertentangan dengan hal yang tidak menimbulkan selera.

Gadamer mempertentangkan antara selera yang baik dengan yang tidak menimbulkan selera. Gadamer menyatakan bahwa fenomena selera adalah kemampuan intelektual untuk membuat diferensiasi atau pembedaan, tetapi kemampuan ini tidak dapat didemonstrasikan. Selera tidak terbatas pada apa yang indah secara alami dan di dalam seni, tetapi sebaliknya justru meliputi seluruh moralitas dan perilaku atau tabiat.

Konsep pertimbangan seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya memiliki hubungan yang erat dengan selera atau taste, selain itu keputusan moral juga menuntut selera. Kita tidak pernah memiliki selera yang berlaku umum. Kita hanya memiliki pertimbangan atas kasus khusus individual. Jadi, pertimbangan selalu mempunyai titik awal berlakunya. Kiranya sulit bagi kita untuk memisahkan antara selera dan pertimbangan.

Dalam penerapannya dengan cerita rakyat Jaka Tarub ini, terdapat banyak selera yang berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Selera yang ada antara lain selera yang baik(positif) dengan selera yang kurang baik (negatif). Selera ini muncul akibat adanya beberapa pertimbangan. Hal ini sama halnya dengan apa yang telah dipaprkan di atas yaitu konsep selera atau taste memiliki hubungan yang erat denagn konsep pertimbangan.

Dalam cerita ini, dikisahkan bahwa istri Jaka Tarub atau Sunan Tarub adalah Dewi Nawangwulan. Di dalam kehidupan masyarakat ini ada beberapa penafsiran mengenai konsep ”bidadari”. Ada dua pandangan yang berbeda mengenai konsep bidadari ini, yaitu pandangan yang positif dan pandangan negatif.

· Pandangan Positif

Pandangan positif ini yang sesuai dengan selera para pendukung cerita rakyat Jaka Tarub. Yang dimaksud dengan pendukung cerita ini adalah mereka yang memiliki konsep pemikiran yang positif mengenai konsep “bidadari” tersebut. Munculnya selera ini timbul karena adanya beberapa pertimbangan mengenai citra positif “bidadari” tersebut. Mengingat “bidadari” adalah makhluk ciptaan Tuhan, dalam hal ini yang dimaksud adalah Dewi Nawangwulan adalah wanita yang diciptakan oleh Tuhan dengan dibekali karomah (keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan pada makhluk yang dipercaya). Selain itu ada juga beberapa pertimbangan mengenai “bidadari” seperti yang telah dijelaskan pada bagian pertimbangan seperti di atas. Pertimbangan mengenai citra positif “bidadari” ini berhubungan dengan nilai estetis yang menimbulkan citra positif pada “bidadari”.

Peran Dewi Nawangwulan tersebut sangat besar bagi Jaka Tarub sampai pada akhirnya dalam penyebaran syariat agama Islam pada masa itu. Masyarakat di sekitar Desa Tarub tersebut juga menganggap bahwa Dewi Nawangwulan adalah bidadari, bahkan narasumber ini sendiri menganggap bahwa kedudukan Dewi Nawangwulan ini adalah sejajar dengan malaikat. Padahal ketika narasumber ditanya mengenai hal-hal yang lebih lanjut apa dan bagaimana itu Dewi Nawangwulan, narasumber tidak bisa, bahkan tidak mau menjawab dengan alasan “ora ilok” dengan bahasa yang sedikit berbelit-belit. Penggunaan bahasa yang seperti itu mengandung makna yang tersembunyi, baik sengaja disembunyikan atau tidak. Namun, hal ini tidak mengubah selera warga masyarakat di sekitar Desa Tarub yang memiliki selera positif pada citra Dewi Nawangwulan sebagai “bidadari”.

· Pandangan Negatif

Pada bagian ini sangat bertentangan dengan selera positif para pendukung cerita Jaka Tarub ini. Bagi mereka yang memiliki selera negatif mengenai konsep “bidadari” ini memiliki beberapa pertimbangan. Pertimbangan ini muncul karena mengaitkan peran wanita pada zaman itu dengan wanita-wanita keturunan sebelumnya pada zaman Kerajaan Singosari, Majapahit, dan lain sebagainya. Mereka menganggap wanita pada zaman itu “nyleneh”. Bahkan ada yang mengaitkan konsep “bidadari” sebagai makna konotasi dari wanita yang gemar bersolek agar cantik atau “ayu” sehingga laku atau “payu”. Anggapan ini sama halnya dengan menjatuhkan citra positif “bidadari” pada masa itu dengan menyamakan dengan konsep “wong wedok geleman”. Atas dasar pertimbangan yang seperti inilah, yang menyebabkan timbulnya selera negatif pada konsep “bidadari”.

Seperti hal-hal yang telah dipaparkan di atas, tentunya kita tidak adil apabila memaksakan selera kita kepada khalayak umum. Kita hanya bisa menerima selera orang lain yang berbeda dengan kita, dan menyerahkan kepada orang lain tersebut mengenai selera apa yang mereka suka menurut penafsiran mereka pada pertimbangan-pertimbangan sebelumnya yang menimbulkan selera mereka.

Satuan Naratif Cerita Jaka Tarub


1. Syeh maulana bertapa ngalong di atas pohon Giyanti.

2. Nona Telangkas bertapa ngidang selama 7 tahun di hutan agar cita-citanya bertemu dengan kakaknya terkabul.

3. Nona Telangkas bertemu dengan Syekh Maulana Magribi di hutan.

4. Nona Telangkas jatuh cinta pada Syekh Maulana Magribi dan akhirnya mereka menjadi sepasang suami istri.

5. Nona Telangkas pulang sendiri dalam keadaan hamil tanpa Syekh Maulana Maghribi.

6. Nona Telangkas kembali ke hutan untuk mencari Syeh Maulana Maghribi.

7. Nona Telangkas melahirkan bayinya di hutan dan meninggalkan bayinya di bawah tempat pertapaan Syekh Maulana Magribi.

8. Syeh Maulana Maghribi membuatkan bokor kencana untuk tempat anaknya lalu meletakkannya disamping makam Aryo Penanggungan.

9. Dewi Kasian menemukan bayi disebelah makam suaminya kemudian dibawa pulang.

10. Masyarakat berbondong-bondong ingin melihat bayi itu kemudian memberi bantuan kepada Dewi Kasian.

11. Bayi itu diberi nama Jaka Tarub, sesuai dengan nama tempat ditemukannya yaitu ditaruban makam Aryo Penanggungan.

12. Seorang kakek memberi ilmu agama dan Tulup Tunjung Lanang kepada Jaka Tarub.

13. Jaka Tarub pulang kerumah dan menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Dewi Kasian.

14. Dewi Kasian melarang putranya untuk masuk ke hutan lagi tetapi Jaka Tarub tidak menghiraukan perkataan ibunya dan tetap berburu.

15. Jaka Tarub mengambil air wudhu di sendang dan menancapkan tulupnya di tepi sendang.

16. Dewi Nawang wulan meletakkan pakaiannya tepat di atas tulup Jaka Tarub.

17. Jaka Tarub membawa pulang tulup dan pakaian Dewi Nawang Wulan kemudian menyerahkannya kepada Dewi Kasian.

18. Dewi Kasian meletakkan pakaian itu di bawah tumpukan jerami.

19. Dewi Nawang Wulan kehilangan pakaiannya dan berjanji jika seorang pria menolongnya akan dijadikan seorang suami, jika perempuan dijadikan saudara.

20. Jaka Tarub kembali lagi ke sendang dengan membawa pakaian ibunya, dan memberikannya kepada Nawang Wulan.

21. Dewi Nawang Wulan diajak pulang ke rumah Jaka Tarub.

22. Jaka Tarub menikah dengan Dewi Nawang Wulan lalu beliau mendapat gelar Sunan Tarub atau Ki Ageng Tarub dan mempunyai putri, Dewi Nawang Sih.

23. Dewi Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub untuk tidak membuka kekep kukusan saat ia sedang mencuci, tetapi Jaka Tarub melanggarnya

24. Dewi Nawang Wulan mengetahui bahwa kekep sudah dibuka sehingga kekuatannya menjadi hilang.

25. Jaka Tarub membuatkan peralatan dapur untuk Nawang wulan.

26. Nawang Wulan menemukan pakaiannya di bawah tumpukan jerami.

27. Dewi Nawang Wulan pamit kepada Jaka tarub dan kembali ke kayangan, alam kawidodaren.

28. Dewi Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub untuk dibuatkan anjang-anjang untuk tempat meletakkan Nawangsih pada saat akan disusui setiap malam.

29. Dewi Nawang Wulan tidak diterima dikayangan lalu pergi ke laut selatan dan berperang melawan Nyi Ratu Kidul, akhirnya menang, dan menguasai pantai selatan.

30. Prabu Brawijaya ke V sakit karena ditinggal wafat istrinya.

31. Prabu Brawijaya bermimpi jika ingin sembuh harus menikahi Putri Wiring Kuning.

32. Prabu Brawijaya menemukan Wiring Kuning yang ternyata pembantunya lalu mengawini Wiring Kuning tersebut.

33. Wiring Kuning melahirkan seorang bayi yang bernama Bondan Kejawan.

34. Prabu Brawijaya menitipkan Bondan Kejawan kepada Juru Mertani karena malu.

35. Juru Mertani akan membayar pajak dan diikuti oleh Bondan Kejawan.

36. Bondan Kejawan naik ke atas kursi raja dan membunyikan bende kerajaan sehingga ia dimasukkan ke dalam sel kerajaan oleh Prabu Brawijaya.

37. Juru Mertani memberi tahu bahwa anak kecil yang dimasukkan ke dala sel adalah putra Prabu Brawijaya.

38. Prabu Brawijaya menyuruh Juru Mertani untuk mengantarkan anaknya kepada Ki Ageng Tarub.

39. Ki Ageng Tarub memerintahkan Bondan Kejawan untuk bertapa ngumboro.

40. Ki Ageng Tarub menikahkan Bondan Kejawan dengan Nawang Sih.

41. Nawang Sih melahirkan Ki Ageng Getas Pandowo.